Tak Lagi Andalkan CPO, 80 Persen Ekspor Sawit RI Kini Didominasi Produk Hilir
Debrinata Rizky, Erlangga Djumena Tim Redaksi
PANGKALAN BUN, KOMPAS.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan struktur ekspor kelapa sawit Indonesia kini didominasi produk hilir. Lebih dari 80 persen ekspor sawit nasional telah berbentuk produk olahan, bukan lagi crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah. Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Zaid Burhan Ibrahim mengatakan, perubahan struktur ekspor tersebut menunjukkan kebijakan hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional. “Struktur ekspor sawit Indonesia juga telah mengalami perubahan yang positif. Lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah. Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional,” ujar Zaid dalam kunjungan kerja dengan tema Exploring the Future of Sustainable Palm Oil: From Research to Plantation Excellence di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada Rabu (28/7/2026).
Ia mengatakan, industri sawit masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia dengan nilai ekspor mencapai lebih dari 20 miliar dollar AS setiap tahun.
Menurut Zaid, hilirisasi sawit kini berkembang ke berbagai sektor industri. Pada sektor pangan dan farmasi, minyak sawit diolah menjadi margarin, minyak goreng, roti, hingga vitamin A dan vitamin E.
Sementara di sektor oleokimia, sawit menjadi bahan baku sabun, detergen, produk kosmetik, make up, hingga skincare. Di sektor energi, hilirisasi menghasilkan berbagai bahan bakar nabati seperti biodiesel, avtur berbasis sawit, dan bensin sawit. Selain itu, limbah sawit juga dimanfaatkan melalui jalur biomassa menjadi pakan ternak, kerajinan, hingga bioetanol.
Zaid menambahkan, industri sawit tidak hanya menopang ekspor, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas. Berdasarkan data BPDP, sekitar 41 persen perkebunan sawit nasional dikelola oleh masyarakat. “Kalau kita lihat dari ujung Sumatra sampai ke timur, itu ada semua. Dari Sumatra Utara, Aceh, Jambi, Riau, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, itu ada semua,” ujarnya.
Selain itu, industri sawit juga menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Sebanyak 9,7 juta orang bekerja secara langsung di sektor perkebunan, terdiri atas 5,2 juta tenaga kerja di perkebunan rakyat dan 4,5 juta karyawan perusahaan perkebunan. Adapun sekitar 8 juta tenaga kerja lainnya bekerja secara tidak langsung di sektor pendukung, mulai dari pengangkutan tandan buah segar (TBS) dan CPO, penyediaan pupuk serta alat perkebunan, hingga berbagai jasa penunjang industri. “Di berbagai daerah sentra sawit, kehadiran industri ini menjadi pendorong pembangunan infrastruktur, tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, berkembangnya UMKM, hingga meningkatnya produk domestik regional bruto dan pendapatan regional bruto Indonesia,” kata Zaid.
Sumber : money.kompas.com