Laba United Tractors Anjlok 48 Persen, Terdampak RKAB Batu Bara dan Penjualan Emas

14 September 2026
Image Description

Yohana Artha Uly, Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com - PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih yang tidak termasuk non recurring items sebesar Rp 4,3 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut turun 48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,2 triliun. Pendapatan bersih perseroan juga turun 15 persen menjadi Rp 58,3 triliun, dari Rp 68,5 triliun pada semester I 2025. Perseroan menyebut penurunan kinerja dipengaruhi rendahnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources, serta berkurangnya alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026. "Penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang sebagian besar mencerminkan dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah," tulis manajemen dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).


Alokasi RKAB yang lebih rendah juga menekan kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi. Penjualan alat berat Komatsu turun 27 persen menjadi 1.994 unit. Penjualan alat berat berukuran besar untuk sektor pertambangan bahkan merosot 55 persen menjadi 325 unit. Akibatnya, pendapatan segmen alat berat turun 28 persen menjadi Rp 15 triliun. "Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor kontraktor penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs dollar AS," tulis United Tractors.

Segmen kontraktor penambangan yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) mencatatkan pendapatan Rp 27,2 triliun, naik 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, volume pekerjaan PAMA Group menurun. Volume pemindahan tanah penutup (overburden) turun 10 persen menjadi 481 juta bank cubic meter (bcm), sedangkan produksi batu bara untuk klien turun 3 persen menjadi 67 juta ton. Penurunan tersebut mengikuti penyesuaian target produksi berdasarkan RKAB yang telah disetujui.

Segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung juga mencatat penurunan. Volume penjualan batu bara turun 10 persen menjadi 6 juta ton, sedangkan pendapatan turun 4 persen menjadi Rp 12,9 triliun.

Penurunan terdalam terjadi pada segmen pertambangan emas dan mineral lainnya. Pendapatan segmen ini merosot 66 persen menjadi Rp 2,4 triliun. Penjualan emas PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya turun 82 persen menjadi 23.000 ons, dari 125.000 ons pada semester I 2025. Sementara itu, PT Stargate Pasific Resources menjual 886.000 wet metric ton (wmt) bijih nikel hingga semester I 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 260.000 wmt saprolit dan 626.000 wmt limonit. Perseroan juga mencatat pos non recurring items sebesar Rp 3,3 triliun pada semester I 2026. Nilai tersebut terutama berasal dari penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate. Per 30 Juni 2026, United Tractors membukukan utang bersih sebesar Rp 9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5 persen.

Posisi tersebut berbalik dari kas bersih Rp 7,7 triliun pada akhir 2025, terutama akibat akuisisi perusahaan tambang emas dan pelaksanaan program pembelian kembali saham (buyback).