Video: Genjot Produksi Batu Bara, Penambang Minta Kepastian RKAB

07 April 2026
Image Description

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melonjak tajam pada Jumat (16/1/2026), mencatatkan kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Penguatan ini ditopang oleh kenaikan harga minyak kedelai seiring rencana Amerika Serikat (AS) untuk memfinalisasi kuota biofuel.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Jumat (16/1/2026), kontrak berjangka CPO untuk Februari 2026 naik 65 Ringgit Malaysia menjadi 4.026 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Maret 2026 melonjak 77 Ringgit Malaysia menjadi 4.057 Ringgit Malaysia pe ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO April 2026 melesat 82 Ringgit Malaysia menjadi 4.072 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2026 melejit 82 Ringgit Malaysia menjadi 4.079 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Juni 2026 juga terkerek 84 Ringgit Malaysia menjadi 4.082 Ringgit Malaysia per ton. Begitu juga dengan Kontrak berjangka CPO Juli 2026 yang meningkat 85 Ringgit Malaysia menjadi 4.077 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari Tradingview, trader di perusahaan perdagangan Iceberg X Sdn Bhd, Kuala Lumpur David Ng mengatakan, pasar bergerak lebih tinggi mengikuti kenaikan minyak kedelai setelah muncul kabar bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan merilis kuota biofuel 2026 pada Maret tahun ini.

“Kebijakan tersebut berpotensi mendorong peningkatan permintaan minyak kedelai sebagai bahan baku biofuel,” ujarnya.

Kuota Biodiesel AS

AS juga berencana mempertahankan kuota biofuel mendekati proposal awal, yang akan meningkatkan volume pencampuran biofuel dibandingkan level 2025. Selain itu, pemerintah AS membatalkan rencana pemberian sanksi terhadap impor bahan bakar terbarukan dan bahan bakunya, menurut dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut.

Di China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,63%, sementara kontrak minyak sawit menguat 0,58%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,49%.

Harga minyak sawit biasanya mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Harga juga didukung oleh estimasi surveyor kargo yang menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Januari naik antara 17,5% hingga 18,6% dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, nilai tukar ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, melemah 0,07% terhadap dolar AS, sehingga membuat harga minyak sawit sedikit lebih murah bagi pembeli dengan mata uang asing.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia naik tipis seiring pelaku pasar mempertimbangkan risiko gangguan pasokan, meskipun peluang serangan AS ke Iran dinilai semakin kecil.

Penguatan harga minyak mentah turut meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Editor: Indah Handayani

Sumber : investor.id