ESDM Bidik Setoran PNBP Minerba 2026 Rp134 T, Lompat 7,6%
Azura Yumna Ramadani Purnama
Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian ESDM menargetkan setoran penerimaan negara bukan pajak atau PNBP sektor mineral dan batu bara (Minerba) mencapai Rp134 triliun tahun ini.
Target itu naik 7,63% dari besaran PNBP sektor Minerba sepanjang 2025 yang dipatok sebesar Rp124,5 triliun.
“[PNBP] Minerba, Rp134 triliun something. Mudah-mudahan achieve,” kata Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno kepada awak media di DPR, Jakarta, dikutip Selasa (20/1/2026).
Tri meyakini target setoran PNBP Minerba itu bisa tercapai seiring dengan peningkatan pengawasan dan tata kelola pertambangan di Tanah Air.
Tri juga mengklaim pemangkasan produksi sejumlah komoditas Minerba pada tahun ini tidak memengaruhi setoran PNBP, alasannya harga komoditas justru terkerek.
“Terus ada beberapa komoditas lain kayak timah juga naik, terus kemudian nikel, emas, dan lain sebagainya. Jadi mudah-mudahan ya achieve lah,” ucap Tri.
Disorot Pakar
Pakar industri tambang mewaspadai turunnya setoran PNBP Minerba tahun ini, gegara rencana pemangkasan produksi batu bara yang berpotensi tak diikuti oleh penguatan harga komoditas.
Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo berpendapat jika volume produksi menurun dan harga batu bara justru tidak mengalami kenaikan, setoran PNBP dari komoditas batu bara akan menurun.
“Kita tahu pada 2024 produksi sebesar 836 juta ton, 2025 sebesar 756 juta ton, atau pengurangan sampai 150 juta ton, hampir 19%. Saya memproyeksikan pendapatan PNBP akan menurun pada 2026,” kata Singgih ketika dihubungi, Selasa (13/1/2026).
Singgih memprediksi pemangkasan produksi batu bara yang dilakukan Indonesia pada tahun ini tak akan serta-merta membuat harga si batu hitam tersebut melonjak tinggi dalam jangka waktu lama, meskipun terdapat penurunan pasokan dari Indonesia saat kondisi kelebihan pasokan.
Alasannya, ketika pasokan batu bara dari Indonesia berkurang di pasar global, China dan India diprediksi justru akan meningkatkan produksinya.
Hal itu dilakukan kedua negara konsumen terbesar itu guna membuat harga batu bara tak melonjak tinggi.
Singgih memandang China dan India akan sangat menjaga harga emas hitam tersebut agar tak terlalu melonjak tinggi, guna melindungi kepentingan sektor manufaktur dalam negeri.
-- Dengan asistensi Pramesti Regita Cindy
(azr/naw)
Sumber : bloombergtechnoz.com