Pertumbuhan Ekonomi Lampaui Ekspektasi, Rupiah Unjuk Gigi
Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah melanjutkan penguatan siang ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif terjaga.
Rupiah menguat 0,55% ke Rp17.923/US$ pada Rabu (5/8/2026) pukul 11:15 WIB, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 tercatat 5,29%. Lebih tinggi dari konsensus yang dihimpun Bloomberg yakni 5,14%.
Rupiah melanjutkan penguatan menjadi 0,6% pada 11:24 WIB ke Rp17.915/US$.
Penguatan rupiah mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap data fundamental ekonomi yang lebih kuat dari ekspektasi.
Realisasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,29% pada kuartal II-2026 memberi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik rupanya masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal, sekaligus meredakan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan Indonesia.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tercatat tetap menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,67 poin persentase, disusul investasi (PMTB) sebesar 2,06 poin, dan konsumsi pemerintah sebesar 1,07 poin. Hal ini menunjukkan permintaan domestik masih menjadi penopang utama aktivitas ekonomi nasional.
Lebih lanjut, konsumsi pemerintah terlihat mencatat pertumbuhan tertinggi di antara ketiga komponen utama, yakni 15,97% (yoy).
BPS menyebut, kenaikan ini didorong oleh percepatan realisasi belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, dan Polri serta tunjangan tenaga pendidik non-PNS, disertai peningkatan belanja barang dan jasa, terutama untuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Di sisi lain, net-ekspor masih menjadi faktor penghambat pertumbuhan dengan kontribusi negatif sebesar 0,78 poin persentase, meski membaik dibanding triwulan sebelumnya yang minus 1,01 poin.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi dan investasi domestik, sementara sektor eksternal belum sepenuhnya pulih akibat tekanan pada perdagangan internasional dan tingginya impor.
Meski demikian, kombinasi konsumsi rumah tangga yang tetap kuat dan investasi yang kembali meningkat menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi domestik masih terjaga.
(dsp/aji)
Sumber : bloombergtechnoz.com
